Kebebasan Saipul Jamil Bisa Picu Trauma bagi Korban, Psikolog Sarankan Intervensi Psikologis

  • Whatsapp

Liputan6.com, Jakarta Pedangdut Saipul Jamil telah bebas dari penjara setelah melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur.

Mengenai hal ini, psikolog anak, remaja, dan keluarga Jovita Maria Ferliana menyinggung tentang keadaan korban. Untuk keluar dari trauma, ia menyarankan korban untuk melakukan intervensi psikologis.

“Saya menyarankan korban melakukan intervensi psikologis oleh tenaga profesional yaitu psikolog. Karena dia di bawah umur, akan lebih baik kalau dia mengambil psikolog anak untuk menghilangkan atau memulihkan traumanya,” ujar Jovita kepada Health Liputan6.com melalui sambungan telepon, Jumat (3/9/2021).

Intervensi psikologi dibutuhkan karena korban pasti mengalami posttraumatic stress disorder (PTSD). Hal ini bisa terjadi dalam bentuk apapun seperti mimpi buruk, kehilangan selera makan, merasa dirinya kotor, berdosa, dan merasa dirinya tidak berharga

Dapat Mengganggu Aktivitas

Gejala PTSD pada akhirnya akan mengganggu aktivitas korban lantaran ingatan atau memori tentang kejadian itu akan selalu teringat.

“Kalau korban di bawah umur dan dia anak sekolah, maka ini bisa mengganggu prestasi akademiknya, mengganggu juga fungsi-fungsi kesehariannya, mengganggu sosialisasi dengan teman-temannya, ada perasaan malu juga.”

Jovita menambahkan, gejala PTSD tidak dapat diselesaikan sendiri melainkan harus ada bantuan dari tenaga ahli.

“Datangi psikolog anak, nanti psikolognya akan melakukan terapi yang berkaitan dengan trauma sesuai spesialisasi masing-masing.”

Jika Sudah Intervensi

Jika sudah melakukan intervensi psikologis, walaupun ingatan itu tidak dapat terlupakan, tapi setidaknya ingatan tersebut tidak lagi mengganggu kesehariannya.

“Kalaupun korban teringat, korban sudah bisa menerima dan mengesampingkan ingatan itu. Jika sudah terapi, korban akan bisa memaknai ingatan itu dengan sesuatu yang berbeda.”

Memaknai ingatan terkait trauma menjadi sangat penting karena dengan demikian korban akan bisa menyimpan ingatan tersebut di latar belakang, bukan di layar utama.

“Sesekali sedih, sesekali marah ya iya, tapi tidak sedominan sebelum mendapatkan terapi.”

Hindari Mengungkit Masa Lalu

Bagi keluarga atau rekan korban, Jovita menyarankan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat mengungkit masa lalu.

“Jangan sering-sering diomongin tentang kejadian itu. Anggap sudah lewat, kecuali si korban yang ingin membahas. Jangan orang-orang terdekat yang sengaja nanya, bisa saja si korban jadi teringat lagi.”

Beberapa pertanyaan yang dicontohkan Jovita dapat memicu trauma masa lalu yakni:

“Kamu masih ingat enggak sama kejadian itu?”

“Kamu waktu itu diapain sih?”

Yang Perlu Dilakukan Saipul Jamil

Sedang, yang perlu dilakukan Saipul Jamil adalah taubat dan mendoakan korban, kata Jovita.

“Yang perlu dilakukan sama Saipul Jamil sebenarnya cukup insaf dan doakan korban, itu aja sih.”

Terkait Saipul Jamil harus menemui korban atau tidak itu perlu ditanyakan kepada korban. Jika korban ingin bertemu maka boleh dipertemukan.

Sebaliknya, jika korban tidak ingin bertemu walau niatnya untuk minta maaf maka pertemuan tersebut tidak boleh terjadi.

“Tergantung kepada korban, ingin bertemu atau tidak.”

Pihak yang menanyakan kepada korban pun tidak boleh sembarangan, lanjut Jovita. Jika korban ditangani oleh psikolog, maka psikolognya lah yang dapat menanyakan hal tersebut kepada korban.

Pasalnya, dibanding orangtua atau orang terdekat, psikolog lah yang dipercaya oleh korban untuk membicarakan hal-hal tersebut

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *